 |
Mengintip sisi dapur Lisung |
Dear L lovers,
Sudah lama kita nggak bahas
Lisung House. Kalau yang sering ke
Lisung, pasti L lovers sangat hapal dengan segala perubahannya. Sejak tahun 2005, resto ini mulai beroperasi, kami selalu menghadirkan suasana baru... baik dari layout bangunan, menu, tanaman, dekorasi dan lain-lainnya, makanya kamu nggak pernah bakalan bosan ke sini.
Pasti sudah tidak asing kalau lihat orang membawa peralatan photo yang canggih-canggih, karena memang setiap jengkal bangunan
Lisung ini layak untuk diabadikan.
Bangunan
Lisung resto tampak depan memang biasa saja tapi begitu melangkah ke dalam, banyak tamu merasa terpukau.
"Ternyata dalamnya luas" ujar seorang tamu. Belum lagi melihat koleksi meja yang terbuat dari lembaran utuh dan tebal, atau
lisung besar yang dijadikan meja cantik, ditambah koleksi barang-barang antik berupa meja, kursi, pajangan, papan iklan, dll. Kami mengoleksi barang-barang tersebut dengan sabar dalam jangka waktu yang tidak singkat. Kalau kalian teliti, kalian bisa menyadari bahwa bangunan resto bawah berupa rumah
geladak besar dan musholla berupa
rumah geladak kecil adalah rumah antik khas Jawa Tengah yang terbuat dari kayu jati... Bankan bagian lantai musholla masih asli bagian dari
Rumah Geladak tersebut. Ada lagi lembaran kayu retak/bolong yang dijadikan bingkai cermin di atas wastafel dekat bartender. Belum lagi si empunya berkreasi membuat kelabang kayu besar yang merupakan susunan kelotok sapi berkaki centong nasi kayu. Kalian pasti ingat betul dengan gembok cinta khas
Lisung. Ya
love lock yang terbuat kelotok sapi, sungguh unik dan pasti sayang kalau tidak berfoto di depannya.
Bangunan utama resto ini bergaya rumah melayu yang terdiri dari 2 lantai. Khas
Rumah Melayu ini selain terbuat dari kayu, berbentuk persegi panjang & memiliki banyak jendela, di atas jendela diberi kaca patri warna-warni. Kaca patri warna-warni yang dipergunakan di sini adalah asli kaca patri warna-warni antik. Bangunan utama ini kami beri nama
Rumah Panggung. Pada lantai atasnya kami meletakan kursi-kursi kayu baru maupun antik dan kursi sofa. Kursi sofa ini berada di sisi yang langsung menghadap pemandangan kota Bandung, sehingga tidak heran bila orang rela menunggu lama, berada di posisi
waiting list untuk dapat duduk di situ. Tapi tidak usah khawatir, sebetulnya kamu mendapat spot/posisi yang baik ketika duduk dimanapun di
Lisung resto karena kami telah mengaturnya sedemikian rupa. :)
Mungkin belum banyak yang tahu,
di bawah teras Rumah Geladak sebetulnya kami masih punya satu area yang kami beri nama
Halu. Area ini memang kami buka hanya pada waktu-waktu tertentu. Kami beri nama
Halu yang berarti alat untuk menumbuk padi alias pasangannya
Lisung [dalam bahasa Sunda]. Area Halu ini terlihat berupa pilar-pilar kayu yang menjulang tinggi ke atas hingga menyentuh atap teras Rumah Geladak di atasnya. Tinggi pilar-pilar kayu ini tak kurang dari 8 meter. Terbayangkan betapa tingginya. Layout teranyar yang ada di
Lisung House adalah pemanfaatan area rumput yang selama ini terbuka. Sekarang silakan nikmati
bean bag chair yang tersedia di sana.
Wah kalau bahas Lisung House memang tiada habisnya. Tunggu ya info lebih lanjut cerita Lisung 2 House.
 |
salah satu pemandangan Kota Bandung dari sofa seat |
love,
L management.
 |
foto salah satu sudut Rumah Panggung lantai atas |
 |
tampak sisi luar Rumah Panggung & pemandangan menghadap arah timur |
 |
tampak salah satu koleksi meja & kursi antik |
 |
cetakan kain batik menjadi salah satu dekorasinya |
 |
nampak sepeti di hutan ya! |
 |
inilah area Halu bila dilihat dari bawah |
 |
tampak kaca patri warna-warni antik & birunya langit |
 |
inilah Bean Bag Chair yang dapat dinikmati saat ini |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar anda sehingga, Lisung resto bisa memberikan services yang lebih baik.